Tampilkan postingan dengan label Masjid diJawa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Masjid diJawa. Tampilkan semua postingan

Senin, 30 Agustus 2010

Masjid Agung Baiturrahman di Ngawi

Senin, 30 Agustus 2010

Masjid Agung Baiturrahman, begitulah nama dari masjid agung yang berada di kota Ngawi ini. Entah sejak kapan masjid ini awalnya berdiri, yang jelas masjid ini memiliki arti yang penting bagi masyarakat Ngawi, sebagaimana pentingnya masjid-masjid agung yang ada di tiap kota/kabupaten di Indonesia.

Sudah jamak ditemui jika lokasi masjid agung biasanya berada di sekitaran alun-alun. Biasanya di sisi bagian barat. Tak terkecuali masjid ini. Masjid Agung Baiturrahman tampak berdiri tegak di sisi jalan bagian barat dari alun-alun kota.

Masjid ini mengalami pembangunan kembali pada 2007 s/d 2009. Setelah dibangun menjadi bentuk yang sekarang ini, masjid ini diresmikan pemakaiannya oleh Gubernur Jawa Timur H. Sukarwo pada 26 Oktober 2010.

Eksterior Masjid

Menyusuri alun-alun kota Ngawi, tampilan masjid ini akan langsung terlihat. Sebuah menara yang berdiri tegak memberi tanda keberadaannya. Menara tersebut berdiri di sisi kiri masjid (kanan dari arah datang). Di bagian bawah menara tersebut terdapat ruangan yang digunakan untuk kantor takmir masjid.

Dari jauh, terlihat juga dua kubah masjid. Arsitektur jawa terlihat jelas pada kedua kubah tersebut. Sebagaimana kubah di masjid Demak, masjid Agung Jawa Tengah, dll, bentuk khas kubah limas ada di sana. Begitu juga di masjid ini.

Serambi masjid ini merupakan tempat favorit untuk istirahat atau berinteraksi setelah selesai sholat fardlu jamaah. Lantainya yang berbahan marmer membuatnya menjadi nyaman.

Pintu utama ada di sisi serambi depan. Sebuah maket masjid terpajang di sana. Di sisi selatan serambi terdapat bedug dan kentongan. Sementara di sisi utara terdapat majalah dinding.

Ruang wudlu masjid ini berada di kedua sisinya. Di sisi selatan untuk jamaah pria dan utara untuk jamaah wanita. Dari kedua sisi tersebut terdapat pintu untuk menuju ke ruang sholat utama.

Masih di bagian beranda, di sana terdapat dua anak tangga yang menuju ke ruang sholat lantai atas. Di sana terdapat pintu, yang tampaknya hanya dibuka pada waktu sholat jumat atau ketika jamaahnya tidak tertampung di ruang sholat utama.

Interior Masjid

Masuk ke ruang sholat utama masjid, di sana terlihat keanggunan masjid ini. Lantai marmer di seluruh areanya, menyajikan kenyamanan bagi siapapun sholat di sana. Garis-garis shoff tampak membelah marmer dengan posisi menyerong untuk menyesuaikan dengan arah kiblat.

Nuansa putih terlihat jelas di sana. Di dinding dan atap, nampak warna putih mendominasi. Enam tiang utama masjid berdiri kokoh di sana ditemani enam tiang putih kecil lainnya. Tiang utama tersebut berwarna coklat kehitaman dengan variasi putih di beberapa bagiannya. Empat buah kaligrafi berwarna emas menghiasi masing-masing tiang utama tersebut di setiap sisinya.

Bagian atas ruang sholat ini berhias bentuk bintang sembilan, kecuali di bagian kubah dalam dari masjid ini. Paduan beberapa warna dalam berbagai bentuk menghias di langit-langit kubah bagian dalam. Paduannya dengan warna putih, menjadikan hiasan itu terlihat anggun. Dan seperti biasa, sebuah lampu besar menggantung di sana.

Mihrab masjid ini berhias oranmen cantik dan tiga buah kaligrafi dalam satu deret. Di sebelah sisinya tampak mimbar yang terbuat dari ukiran kayu jati.

====================================================

Masjid Agung Baiturrahman Kota Ngawi, salah satu ikon religius yang menarik untuk dikunjungi, terutama jika kita sedang berada di kota yang terkenal akan kripik tempenya ini.

Pun begitu diriku yang dzuhur siang itu berkesempatan untuk sholat di masjid ini, selepas menyelesaikan suatu urusan di kota ini.

====================================================
photo by : deddy
====================================================



http://2dheart.wordpress.com/2010/11/20/masjid-agung-baiturrahman-di-ngawi/

Senin, 23 Agustus 2010

Masjid Al Mahdy di Jatisari, Bekasi

Senin, 23 Agustus 2010

Jika kita menyusuri Jl. Hankam Raya dari arah Ujung Aspal menuju ke Jatiwarna, ketika memasuki daerah Jatisari, tampak sebuah masjid yang cukup anggun berdiri di sisi kiri jalan. Masjid itu bernama Masjid Al Mahdy.

Masjid yang secara kapasitas tidak terlalu besar itu, tampilan arsitekturnya membuat siapa saja yang kebetulan melewati daerah tersebut, menyempatkan waktu untuk melihatnya dari balik kaca kendaraan.

Diriku sendiri, entah telah berapa kali melewati jalan itu dan terpesona dengan tampilan menawan masjid itu.

Minggu kemarin selepas silaturahmi ke rumah saudara dan kebetulan juga pas azan dzuhur berkumandang, diriku tengah berada di dekat masjid tersebut. Dirikupun sempatkan untuk sholat dzuhur berjamaah di sana.

Selepas sholat dzuhur, diriku coba untuk mengambil gambar beberapa bagian dari masjid tersebut.

Eksterior

Masjid itu memiliki halaman yang cukup. Dari jalan raya, terdapat pintu untuk memasuki halaman masjid sisi barat.

Dari situ kita bisa melihat tampilan eksterior yang cukup anggun. Sebuah menara kecil berada di salah satu sudut bagian atas dari bangunan tersebut. Menara tersebut berdiri menyatu dengan bangunan.

Sebuah kubah besar berwarna biru ada di bagian tengahnya. Sementara beberapa kubah kecil dengan warna yang sama, menemani di masing-masing sudutnya.

Tampilan ornamen khas timur tengah (seperti di masjid nabawi) nampak terpampang di sisi bagian luar bangunan masjid tersebut.

Beranjak masuk semakin ke dalam, di bagian ujung timur, di sana berdiri bangunan yang digunakan sebagai ruang pengurus/takmir masjid.

Berdempetan dengan ruang tersebut, terdapat ruang wudlu dan toilet yang cukup bersih.

Bangunan masjid tersebut terdiri dari tiga lantai. Lantai dasar digunakan sebagai ruang serbaguna. Lantai atas digunakan untuk ruang sholat utama. Serta lantai atasnya lagi merupakan ruang mezanine yang juga digunakan untuk sholat.

Di seberang dari tempat wudlu terdapat tangga menuju ruang sholat utama. Di antara kedua bangunan tersebut terdapat semacam taman yang rindang dan hijau. Cukup untuk meneduhkan.

Tangga yang cukup menawan menjadi jalan untuk menuju serambi masjid. Warna hitam marmer menyelimuti seluruh tangga. Sementara pilar-pilar putih berdiri di sisi kiri dan kanannya.

Sampai di ruang serambi, di sana sebuah ornamen cantik berhias kaligrafi ayat suci al Qur’an terpasang di atapnya.

Di masing-masing ujung ruang serambi tersebut terdapat tangga untuk menuju ruang mezanine.

Interior

Ruang sholat utama masjid ini tidaklah begitu besar. Namun meski begitu, ruang tersebut terkesan menarik, nyaman dan indah.

Yang menarik dari ruang sholat utama ini adalah ornamen-ornamen yang menghiasinya. Tampilan kubah bagian dalam yang cantik ditambah tampilan kaligrafi yang menarik, menjadikannya sungguh mempesona.

Ruang mihrab pun tampak begitu menonjol tampilannya. Aneka bentuk corak ornamen ada di sana. Sementara di sisi kiri dan kanan mihrab, terpasang di dinding semacam ukiran bertuliskan lafadz Alloh dan Muhammad.

Di ruang sholat utama terdapat pemisah berupa kain pembatas, yang memisahkan jamaah pria dan wanita.

Di sisi kiri kanan masjid terdapat ruang selasar kecil. Ruang selasar tersebut terhubung langsung dengan serambi masjid. Ruang perpustakaan ada di ujung ruang selasar itu.

…………

Hmmm.. masjid yang tidak begitu besar tapi cukup anggun dan tentu saja memberi kenyamanan kepada para jamaah yang sholat di dalamnya. Itulah Masjid Al Mahdy.

So, jika netter sekalian sedang berada di daerah tersebut, cobalah untuk mampir ke masjid tersebut untuk melaksanakan sholat.

====================================================
photo by : deddy
====================================================


http://2dheart.wordpress.com/2010/10/25/masjid-al-mahdy-di-jatisari-bekasi/

Sabtu, 17 Juli 2010

Masjid Agung Jawa tengah, Semarang

Sabtu, 17 Juli 2010

Masjid Agung Jawa Tengah

Central Java Grand Mosque (MAJT=Masjid Agung Jawa Tengah) which is located in Gajah Raya Street, Semarang, Central Java, Indonesia opened at 11 November 2006, now become Moslem pride because the world has known its existence. Not only recognized by Indonesia Moslem but also have been recognized by Moslem in the world. Not a few Islams States Diplomats and Worlds Moslem paying a visit to Central Javas use opportunity intentionally x’self visit MAJT. They confess got stuck with pride of MAJT, the development need time of 5 year, and become place of religious service, education center, public service, activity syiar Islam center, and alternative of religi tour.

Even, almost every day domestic tourist from fatherland angle, especially at red letter day coming to MAJT for seeing beauty of Grand Mosque building. MAJT was built in area of approximately of 10 hectare, with mains building broad 7.669 m2, and can accomodate 15.000 pilgrim. While the width platform of 7.500 m2 provided with six giant umbrella which can open and close automatically like the one in Nabawi Mosque in Madinah town.

This mosque architecture is between Javas, Arab, and Greek architectures.

In right wing building there is auditorium or meeting room capable to accomodating 2.000 pilgrim. While left wing is draw up for library which is design to become modern library (digital library) and rented space for office.

MAJT besides prepared as religious service place, also draw up as a religion tour. For supporting this purpose, MAJT provided with inn with capacities of 23 room chamber various classes so people that wishing spend the night can use this facility.

Asmaul Husna Tower

Other fascination from this mosque is Asmaul Husna Tower or Al Husna Tower with height 99 Meter. Elementary part from this tower there are Studio Radio DaIs (Dakwah Islam). While in 2nd floor and 3rd floor applied as Museum Kebudayaan Islam, and in 18th floor there are”Moslem Cafe” available to rotate 360 degree. In 19thrd floor, which is for see tower is equipped five binoculars which can see Semarang town from above.

MAJT is evaluated from the angle of the architecture is very pride and the building of model bunch principle byword kluster from Mosque Nabawi in Madinah.

Form of appearance of the architecture is new composition model taking from tradition mosque of wali with adding universal patterns of Islam architectures at main building withby uppermost of the main dome provided “minaret” sharp-pointed boost in fourth of the side.

MAJT have concept which translated in tradition candra sengkala. Message in candra sengkala solid in sentence “sucining guna gapuraning gusti” (4391-1934Java or 2001 year Masehi Miladiyah), mark onset for intention besit to start to build this Java pearl mosque..

Some buildings in areas MAJT have specification specially not owned by other area in Indonesia. For example giant hydraulic umbrella which you can only find in two place, that is Mosque Nabawi and Centra lJava Grand Mosque.


http://beautifulmosques.com/?p=146

Kamis, 15 Juli 2010

Masjid Istiqlal, Jakarta

Kamis, 15 Juli 2010

Istiqlal Mosque, or Masjid Istiqlal, (Independence Mosque) in Jakarta, Indonesia is the largest mosque in Southeast Asia in term of capacity to accommodate people. However in term of building structure and land coverage, Istiqlal is the largest in Southeast Asia. This national mosque of Indonesia was build to commemorate Indonesian independence, as nation’s gratitude for God’s blessings; the independence of Indonesia. Therefore the national mosque of Indonesia was named “Istiqlal”, an Arabic word for “Independence”.

History

After the Indonesian National Revolution 1945-1949, followed by the acknowledgement of the independence Indonesia from The Netherlands in 1949, there was a growing idea to build a national mosque for this new republic, befitting for a country with the largest Muslim population in the world. The idea of constructing a grand Indonesian national mosque was launched by KH. Wahid Hasyim, Indonesia’s first minister for religions affairs, and Anwar Cokroaminoto, later appointed as the chairman of the Masjid Istiqlal Foundation. The committee for the construction of the Istiqlal Mosque, led by Anwar Cokroaminoto, was founded in 1953. Anwar proposed the idea of a national mosque to Indonesian President Sukarno, who welcomed the idea and later helped to supervise the construction of the mosque. In 1954, the committee appointed Sukarno technical chief supervisor.

Sukarno actively followed the planning and construction of the mosque, including acting as the chairman of the jury for the mosque design competition held in 1955. The design submitted by Frederich Silaban, a Christian architect, with the theme: “Ketuhanan” (Indonesian: Divinity) was chosen as the winner. The foundation stone was laid by Sukarno on 24 August 1961 and the construction took 17 years. Indonesian president Suharto inaugurated the Indonesian national mosque on 22 February 1978. It is still the largest mosque in the region: more than 120,000 people can congregate at the mosque at the same time.

Structure
The rectangular main prayer hall building is covered by a 45 meter diameter central spherical dome. The dome is supported by twelve round columns and the prayer hall is surrounded by rectangular piers carrying four levels of balcony. Staircases at the corners of the building give access to all floors. The main hall is reached through an entrance covered by a dome 10 meters in diameter. The interior design is minimalist, simple and clean cut, with minimal adornment of aluminium geometric ornaments. The 12 columns are covered with aluminium plates. On the main wall on qibla there is a mihrab and minbar in the center. On the main wall, there is a large metalwork of Arabic calligraphy spelling the name of Allah on the right side and Muhammad on the left side, and also the calligraphy of Surah Thaha 14th verse in the center.

The latter structure is directly connected to the arcades which run around the large courtyard. The mosque also provides facilities for social and cultural activities, including lectures, exhibitions, seminars, conferences, bazaars and programmes for women, young people and children.

Some Muslims in Indonesia said Istiqlal’s dome and minaret structure was too Arabic in style. They regarded the architecture as being out of harmony with the Islamic culture and architecture in Indonesia. In response, former president Suharto began an initiative to construct more mosques of the Javanese triple-roofed design.


http://beautifulmosques.com/?cat=208&paged=3