Tampilkan postingan dengan label Makkah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Makkah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 02 November 2010

Projek Raksasa Masjidil Haram (2)

Selasa, 02 November 2010

proyekmasjidilharam

MEKAH–Anda gagal berangkat haji tahun 1430 H ini akibat keterbatasan kuota? Jangan bersedih dan jangan menyesal. Justru kalau tahun ini berangkat, maka Anda tidak melihat Masjidilharam “baru” yang amat sangat luas dengan sistem real estate terpadu yang luar biasa. Sebab, tahun ini, projek perluasan Masjidilharam masih dalam proses pengerjaan. Baru sepuluh tahun ke depan, projek besar pembangunan Kota Mekah Al-Mukaramah selesai dibangun. Namun setidaknya, Masjidilharam bersama pembangunan sekitarnya sudah dapat dilihat hasilnya pada musim haji 1431 H.

Projek besar pembangunan Kota Mekah merupakan keniscayaan. Sebab, setidaknya tiga juta orang datang ke kota ini setiap musim haji, dan beberapa kali lipat lagi jumlah jemaah umrah sepanjang tahun. Padahal, kapasitas Masjidilharam hanya mampu menampung sekitar satu juta orang. Itulah sebabnya, penyelenggaraan haji selalu ruwet dipusingkan oleh perumahan dan pemondokan yang kurang, transportasi yang terbatas, tempat ibadah yang sempit, dan problem sosial lain sebagai ikutan dari membludaknya jemaah.

Keputusan Pemerintah Kerajaan Arab Saudi yang akan membangun projek raksasa senilai RS 50 miliar (RS 1 kurang lebih setara dengan Rp 2.600,00) adalah tepat. Karena untuk mengatasi sempitnya areal ibadah adalah dengan cara memperluasnya. Persoalannya, selama ini, lingkungan Masjidilharam penuh sesak dengan hotel dan penginapan, dari hotel bintang lima yang sangat mewah, hingga bangunan lama peninggalan zaman syeikh. Tempat ini mampu menampung sekitar sejuta jemaah.

Tidak peduli. Keputusan Pemerintah Arab Saudi adalah untuk dilaksanakan, bukan diwacanakan. Berapa pun besarnya nilai hotel dan perumahan serta tanah yang ada di sekitar Masjidilharam diganti. Setidaknya, 1.000 hotel dan rumah yang berada di Syamiya, sisi utara Masjidilharam diruntuhkan. Para pemiliknya mendapatkan ganti rugi tak kurang dari RS 6 miliar. Di sisi timur Masjidilharam yang sebelumnya dikenal dengan Pasar Seng dibangun projek perluasan ke Jabal Khandama seluas 150.000 meter persegi.

Jabal (Bukit) Omar yang terletak di sisi barat daya Masjidilharam segera diratakan dengan cara merobohkan bangunan yang ada serta meruntuhkan gunung, kemudian digali dan dipancangkan foundasi. Lokasi ini akan dibangun komplek perumahan dan hotel serta pusat belanja. Selain itu, tempat ini juga akan dibangun tempat perluasan tempat salat yang mampu menampung 120.000 orang. Di bagian tenggara Masjidilharam, di sekitar Rumah Sakit Ajyad, segera dibangun rumah sakit modern dan pusat kesehatan yang dilengkapi fasilitas gawat darurat.

Dengan pembangunan projek raksasa ini, diharapkan sebagian besar jemaah yang terus bertambah dapat tertampung di sekitar masjid. Di samping itu, kapasitas Masjidilharam dapat terus meningkat hingga mampu menampung semua jemaah yang datang. Mereka tidak lagi melaksanakan salat di emperan toko atau di jalan-jalan yang menyambung ke masjid. Tapi setidaknya, mereka dapat melaksanakan salat di masjid perluasan Masjidilharam yang ada sekarang.

Akibat pembangunan raksasa ini, jemaah haji yang tengah beribadah di Masjidilharam mendengar gemuruh pembangunan Masjidilharam yang terus berjalan sepanjang 24 jam. Di luar jam salat, jemaah yang melaksanakan ibadah di seputar Masjidilharam dapat menyaksikan puluhan mobil becho sedang meruntuhkan gunung Syamiya. Ratusan truk hilir mudik mengangkut batu dan tanah bekas galian. Gunung batu keras yang tadinya menjulang kini digali semakin dalam untuk pembuatan foundasi. Namun di atas sisa gunung yang masih menjulang berdiri ratusan rumah dan hotel yang sudah dikosongkan dari penghuninya. Pemandangan yang sangat dramatis.

Pasar Seng yang dulunya selalu menjadi tempat favorit jemaah Indonesia berbelanja, saat ini menjadi tempat terbuka. Namun belum terlihat ada bangunan. Hanya puluhan kios yang memberikan layanan potong rambut masih berdiri berjejer, namun sifatnya tidak permanen. Bangunan ini setiap saat bisa digusur. Tidak ada lagi toko yang menjajakan tasbih, tas, pakaian, jam, dan barang elektronik seperti di masa lalu, hanya beberapa bagalah (warung) yang menjajakan minuman yang masih berdiri dengan bangunan yang tidak permanent. Toko yang dulu sangat meriah kini mundur ke belakang, sebagaimana jemaah haji juga mundur tempat tinggalnya.

Jabal Omar yang terletak di sekitar Istana Raja belum mengalami pembongkaran. Namun wilayah ini sudah terlihat lesu. Sebab, hotel dan penginapan yang tinggi menjulang sudah tidak ada penghuninya lagi. Mereka tinggal menanti setiap saat diruntuhkan. Memang rumah dan hotel ini masih terlihat ada satu atau dua orang penjaga, namun kamar dan bangunan di bagian atas tak lagi terlihat nyala listrik. Gelap gulita.

Menutut sejumlah mukimin yang tinggal di Mekah, di luar musim haji, gedung dan perhotelan yang besar diruntuhkan menggunakan dinamit. Dengan tingkat keamanan yang sangat tinggi, gedung-gedung itu diruntuhkan dalam hitungan menit tanpa menimbulkan kerusakan pada lingkungan. Tembok dan atap bangunan seperti kompak runtuh ke dalam, seperti tanaman yang layu. Puluhan kendaraan becho kemudian mengeruk bekas bangunan. Dengan truk, bekas bangunan itu diangkut ke luar Kota Mekah.

Pembangunan perluasan Masjidilharam yang “gila-gilaan” ini sepertinya sudah dihitung secara detail tentang peluang pencemaran lingkungan. Karena pembangunan ini bagaimanapun akan menyebabkan debu berterbangan ke mana-mana, bahkan berpeluang masuk ke Masjidilharam saat jemaah sedang padat-padatnya. Namun pada kenyataannya, setiap batu dan tanah yang dikeruk selalu diikuti dengan siraman air, sehingga debu itu tidak sempat terbang ke udara, kecuali sedikit.

Di pinggir pembangunan projek perluasan di bagian Syamiyah ini berdiri juga puluhan bagalah yang menyediakan makan dan minum bagi jemaah haji, baik makanan khas Arab, Pakistan, Turki, bahkan masakan Indonesia. Sembari menikmati jajanan dan minuman, jemaah haji dapat menyaksikan bagaimana secara perlahan mobil peralatan berat itu meruntuhkan gunung batu yang amat keras dengan mudah.

Ring Dua

Projek pembangunan perluasan Masjidilharam inilah yang menjadi penyebab utama mengapa jemaah haji selama dua tahun terakhir ini mengalami pergeseran tempat tinggal. Jika di masa lalu sebagian jemaah bisa tinggal di penginapan yang jaraknya antara 50 meter hingga 1.000 meter dari Masjidilharam, sekarang tidak bisa lagi. Paling dekat, jemaah tinggal satu kilometer dari Masjidilharam, karena projek perluasan masjid ini rata-rata seluas radius satu kilometer itu dari masjid.

postermasjidilharam.jpgMaka akibatnya, sekitar 50.000 jemaah haji Indonesia yang biasanya tinggal di sekitar Masjdilharam harus tergusur. Perumahan di masa lalu yang disebut sebagai Ring II, kini berubah menjadi Ring I, sedangkan Ring III di masa lalu, kini menjadi Ring II. Namun jemaah haji yang mengalami penggusuran tempat tinggal ini tidak hanya dialami jemaah Indonesia. Jemaah haji dari negara lain yang memiliki jemaah dalam jumlah yang banyak juga menempatkan mereka di wilayah yang jauh hingga berjarak 10 km.

Maka di wilayah yang jauh tersebut, selain jemaah Indonesia, terlihat jemaah asal Turki. Mereka juga menggunakan kendaraan jemputan saat pergi maupun pulang dari Masjidilharam, sebagaimana jemaah haji Indonesia. Meski demikian, sebagian dari mereka melaksanan salat sehari-hari di masjid di lingkungan mereka tinggal. Maka masjid bagus dan besar yang salam ini sepi, menjadi semakin hangat dengan meningkatnya jemaah tersebut.

Hanya istana raja yang digunakan untuk guest house yang tidak digusur beserta sejumlah hotel raksasa di sampingnya yang masih berdiri tegak. Hotel inilah yang digunakan jemaah haji biaya perjalanan ibadah haji (BPIH) khusus. Kelihatannya, hotel ini merupakan bagian dari megaprojek perluasan masjid, sehingga mereka tidak tergusur, bahkan terus disempurnakan bangunannya hingga tinggi menjulang.mch/yto


http://www.jurnalhaji.com/2009/11/12/projek-raksasa-masjidilharam/

Kamis, 28 Oktober 2010

Pesona Masjidil Haram dan Nabawi

Kamis, 28 Oktober 2010

h-113MADINAH–Islam mengenal tiga masjid suci, Masjidilharam di Mekah, Masjid Nabawi di Madinah, dan Masjidil Aqsha di Palestina. Selama melaksanakan haji, umat Islam dapat mengunjungi dua masjid, yakni Masjidilharam di Mekah Al-Mukaramah dan Masjid Nabawi di Madinah Al-Munawarah. Apa kesamaan dan perbedaan beribadah di dua masjid ini?

Kesamaannya, kedua-duanya mempesona. Berpesona tak sekadar terlihat dari bangunannya yang kokoh, besar, dan kuat. Tapi dua masjid itu memancarkan sinar keagungan Allah SWT dan sinar Muhammad saw. Masjidilharam memancarkan keagungan Sang Khalik, sedangkan Masjid Nabawi menggambarkan kebesaran Muhammad.

Pesona Mekah yang paling utama, karena di tempat ini Allah memilih membangun Baitullah. Menurut Rasulullah, dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abu Dzar Al-Ghifari, masjid yang paling pertama dibangun di muka bumi ini adalah Masjidilharam. Setelah 40 tahun kemudian dibangunlah Masjidil Aqsha. Pembangunan Masjidil Aqsha yang dimaksudkan adalah pembangunan yang dilakukan oleh Yakub bin Ishak dan kemudian direnovasi oleh Nabi Sulaiman.

Menggambarkan pesona itu, Rasulullah saw., dalam hadis yang diriwayatkan Jabir r.a. bersabda, “Salat di masjidku ini (Masjid Nabawi) adalah 1.000 kali lebih utama daripada salat di masjid lainnya, kecuali Masjidilharam. Sebab, salat di Masjidilharam lebih utama 100.000 kali daripada salat di masjid lain. Sementara salat di Masjidil Aqsha lebih utama 500 kali daripada salat di masjid lain.”

Begitulah kebesaran Kota Mekah, sehingga Allah menjadikan tempat ini sebagai tanah haram atau tanah suci. Itulah sebabnya, di tempat ini tidak boleh terjadi pertumpahan darah. Setiap orang yang berdoa di tanah haram ini juga mustajabah (dikabulkan). Keagungan Kota Mekah terpancar dari keagungan Allah SWT. Dengan kekuasaan Allah, Sang Khalik berkehendak apa pun yang diinginkan-Nya. Pada kenyataannya, dengan Ar-Rahman dan Ar-Rahimnya, Allah menghendaki agar manusia sejahtera dan bahagia, tidak hanya di dunia, tapi bahkan di akhirat.

Allah yang telah menciptakan alam semesta ini, Allah pula yang membuat aturan mainnya melalui hukum alam. Melalui Alquran, Allah mengabarkan kepada manusia bagaimana cara bersahabat dengan alam semesta ini. Manakala terjadi banyak bencana, manusia harus menyadari, hal itu karena manusia tidak mengikuti sistem alam yang menjadi ketentuan Allah.

Melalui ritus haji, Allah menguji siapa di antara umatnya yang beriman. Melalui rukun Islam kelima ini, Allah mengundang hamba-Nya untuk datang menghadap-Nya. Di tanah suci, manusia bisa berdialog dengan Penciptanya, mereka mengadukan nasibnya, meminta ampun atas dosa-dosanya. Kemudian, Allah menawarkan hamba-Nya untuk meminta apa pun yang diinginkannya.

Dengan berdoa, Allah akan mengabulkan semua permintaan hamba-Nya tersebut.
Meskipun berhaji dibandingkan dengan travelling ke luar negeri sama, tapi berhaji secara substantif mempunyai makna yang jauh berbeda. Berhaji adalah kepasrahan diri, datang menghadap Allah dengan apa adanya sebagai manusia. Berhaji justru kita diminta datang oleh Allah sebagai diri kita, manusia. Maka, memasuki Kota Mekah hanya mengenakan dua kain putih tanpa jahitan. Saat wukuf di Arafah pun, Allah pamer dan merasa bangga kepada para malaikat bahwa hamba-Nya datang dengan keadaan dekil.

Makanya, ketika seseorang datang ke menghadap Allah, dia merupakan perjalanan seorang hamba yang menghadap Penciptanya. Maka, mereka datang tanpa atribut apa pun, tanpa memperlihatkan pangkat dan derajat, kecuali kerendahan hatinya. Sedangkan travelling ke luar negeri pada umumnya berkaitan dengan derajat dan pangkat, serta kemewahan. Berhaji ke Mekah berarti kepasrahan manusia kepada Sang Khalik.

Keagungan Madinah
Berbeda dengan saat di Mekah, di Madinah suasana cukup berbeda. Madinah merupakan pancaran pembudayaan Islam yang akar-akarnya ada di Mekah. Di Madinahlah Rasulullah mengekspresikan substansi Islam dalam bentuk lahiriah. Sistem Islam ditata Rasulullah dalam kehidupan kemasyarakatan di Madinah.

Itulah sebabnya, datang ke Madinah nuansanya berbeda dari Mekah. Madinah sangat kental rasa kemanusiaannya. Kota nya bersih, masyarakatnya ramah, banyak kebun korma yang alami, terdapat oase, pola keluar masuk jemaah yang teratur antara yang datang dan pergi, dan sebagainya. Sedangkan Mekah terkesan lebih mengesankan keagungan Tuhan Yang Mutlak.

Maka ritus yang dilaksanakan di Madinah pun relatif lebih sedikit. Jemaah hanya melaksanakan salat arbain, yaitu salat berjamaah di Masjid Nabawi. Ritus ini sesungguhnya nyaris sama dengan ibadah harian. Sebab, setiap Muslim disarankan melaksanakan salat berjamaah di masjid, sebagaimana Rasulullah selalu melaksanakan salat fardhu di masjid. Selain melaksanakan salat fardhu, jemaah hanya berziarah ke makam Rasulullah, sahabat Abubakar dan Umar, serta sejumlah sahabat lain di makam Al-Baqi, serta sejumlah malam lain seperti di Gunung Uhud.

Sedangkan ritus yang dilaksanakan di Mekah dan sekitarnya berkaitan dengan kewajiban hamba kepada Penciptanya. Datang dengan berihram, kemudian melaksanakan tawaf, sai, dan wukuf di Arafah, mabit di Muzdalifan dan Mina, dan terakhir melontar jumrah. mch/yto

http://www.jurnalhaji.com/2009/11/04/pesona-masjidil-haram-dan-nabawi/


Rabu, 27 Oktober 2010

Darul Arqam dan Masjid Sekitar Masjidil Haram

Rabu, 27 Oktober 2010

MAKKAH–Jumat lalu, saya memilih shalat Ashar di Masjid Kucing, sekitar 200 meter dari Bab Salam Masjidil Haram. Tentu tak ada pemandangan langsung ke Kabah. Jamaah penuh.

Tak jauh dari Masjid Kucing, juga ada sebuah masjid lagi. Sebelum Ashar, posisi kami berada di depan masjid nyang satu itu,juga sekitar 200 meter dari Pintu Marwah Masjidil Haram.

Saat kumandang Ashar, suara adzan dari masjid itu kurang enak di telinga, sehingga kami memilih berjalan ke Masjid Kucing. Saat shalat Jumat, kami shalat di Masjidil Haram. Jamaah penuh. Cukup susah kami mencari tempat di bagian depan yang bisa langsung melihat Kabah. Yang kosong tinggal di pelataran Kabah, tapi cuaca cukup panas, sehingga kami memilih naik ke lantai dua. Pun, penuh.

Di masa lalu, pelataran Kabah yang dipakai untuk tawaf tergolong sempit. Hanya 21 meter dari Kabah, karena di meter ke-21, sudah ada bangunan yang melindungi sumur Zamzam. Bertambahnya jamaah membuat bangunan berukuran 88,8 meter persegi itu dibongkar, sehingga pada 1381-1388 dilakukan perluasan tempat tawaf. Mimbar juga dipindahkan. Maqm Ibrahim direnovasi. Kerikil dihilangkan.

Abdullah ibn Zubair adalah orang pertama yang memberi ubin di tempat tawaf. Ubinnya bergaris tengah lima meter. Hingga 1375 Hijriyah, sumbangan marmer terus berdatangan, dengan bentuk oval saling berhadapan. Lantai tawaf itu dibuat dari marmer dingin, sehingga menahan panas matahari.

Untuk membuat dingin Masjidil Haram, disediakan sentral penyejuk udara. Udara disalurkan lewat terowongan yang menghubungkan sentral pendingin dengan satuan pendingin di tiang-tiang masjid.

Di mala lalu, saat tempat tawaf masih sempit dan jamaah masih sedikit, untuk shalat cukup dilakukan di belakang Maqm Ibrahim. Imam dan jamaah berada di situ. Bertambahnya jamaah, membuat shaf melingkari Kabah perlu dipikirkan. Maka, Gubernur Makkah Khalid bin Abdullah al-Qusary (wafat 120 Hijriyah) menata shaf melingkar itu. Dengan shaf melingkar itu, orang yang shalat tetap menghadap dan bisa melihat ke Kabah.

Maka, ketika kami shalat di Masjidil Haram, kami juga berupaya bisa shalat di posisi yang bisa melihat langsung Kabah. Jauh dari pelataran Kabah, kita sudah tak bisa melihat Kabah. Tiang-tiang Masjidil Haram berikut atap dan lainnya, telah menghalangi penglihatan langsung ke Kabah.

Di sekitar Masjidil Haram, dulu juga ada masjid yang dibangun oleh ibunda Khalifah Harun Al-Rasyid, al-Khuzairan. Masjid ini tepatnya berada di bekas lokasi rumah Nabi, pada 1957, masjid itu dibongkar, kemudian dibangun perpustakaan.

Khuzairan semula adalah budak Mahdi al-Abbasi. Ia juga membangun masjid sekitar 36 meter sebelah timur Safa. Masjid ini dibangun pada 787 Masehi, dibekas lokasi Darul Arqam, rumah Arqam ibn Abi al-Arqam. Rumah sahabat Nabi ini menjadi pusat syiar Islam di awal-awal kenabian Muhammad. Saat itu belum genap 40 orang yang memeluk Islam. Dari rumah ini, syiar dilakikan secara sembunyi-sembunyi. “Muslim yang bru masukIslam berkumpul dan melaksanakan shalat di dalamnya secara sembunyi-sembunyi pula,” tulis Dr Muhammad Ilyas Abdul Ghani, dalam buku Sejarah Mekah.

Syiar Islam baru dimulai terang-terangan, ketika Umar bin Khathab muncul sebagai orang ke-40 yang memeluk Islam. Pada 1955, Masjid Arqam dihancurkan demi perluasan Masjidil Haram,sehingga lokasi masjid ini sekarang menjai pelataran Masjidil Haram. Nama Arqam kemudian diabadikan sebagai nama pintu pertama di tempat sai, samping Safa. Namanya Pintu Darul Arqam.

Tak jauh dari Masjidil Haram pula, ada Masjid Jin. Masjid ini sekitar 1 km dari Masjidil Haram –sekitar 100 meter dari kompleks makam Mala, tempat Siti Khadidjah dikuburkan. Lokasi Masjid Jin ini dulunya merupakan lokasi yang dipakai Nabi menulis surat ke Ibn Masud. Saat itu, ada rombongan jin yang ingin membaiat Nabi. Rombongn jin ini sebelumnya telah bertemu Nabi di Nakhlah. Pada tahun ke-10 kenabiannya, Nabi pergi ke Thaif, kemudian ketika pulang dari Thaif bertemu rombongan jin itu di Nakhlah.

Penduduk yang tinggal atau bekerja di sekitar Masjidil Haram tak selalu shalat di Masjidil Haram. Di jam-jam shalat, mereka memilih ke masjid terdekat, seperti Masjid Kucing dan Masjid Jin, dan juga masjid lainnya yang berada di sekitar Masjidil Haram.

Lokasi Masjid Kucing ini dipercaya sebagai sebagai lokasi rumah Abu Hurairah, salah satu sahabat Nabi. Abu Hurairah berarti Bapak Kucing. Hanya jamaah dari Indonesia yang menyebut masjid itu sebagai Masjid Kucing. Di Makkah, masjid ini dikenal sebagai Masjid Rayah atau Masjid Abu Hurairah.

Kami berencana safari shalat di masjid-masjid bersejarah di sekitar Masjidil Haram. Jumat malam, kami mencoba menyambangi Masjid Jin, tapi tutup. Masjid-masjid di sekitar Masjidil Haram, hanya buka di waktu-waktu shalat. Kalau Masjidil Haram, buka 24 jam.

priyantono oemar

Rabu, 04 Agustus 2010

Projek Raksasa Masjidil Haram (1)

Rabu, 04 Agustus 2010