Selasa, 09 November 2010

Masjid Al-Aqsha Dihancurkan

Selasa, 09 November 2010
Assalamu''alaikum Wr. Wb,
Ustadz semoga dalam keadaan sehat-sehat.. Maaf sebelumnya saya menulis ini karena saya bingung dan harus bagaimana dan apa yang harus saya lakukan?
Setelah membaca berita tentang kekejaman Zionis Israel dalam meruntuhkan masjid Al-- Aqsa kiblat pertama umat Islam. Kita semua pasti tidak rela kalau Masjid Al-Aqsa dihancurkan.
Mohon saran dan nasehatnya, semoga Allah memberikan kekuatan dan kesabaran bagi saudara-saudara kita yang skrg berjuang mempertahankan al--Aqsa.
Jazakallah
Wassalamu''alaikum Wr. Wb

jawaban

Assalamu ''alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Kalau kita punya iman dan tsiqah yang kuat kepada Allah SWT, sesungguhnya musuh-musuh Allah itu sangat lemah, kecil dan tidak berdaya. Karena Allah pasti akan menolong kita dan menguatkan pijakan kita.
Hai orang-orang mu''min, jika kamu menolong Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.(QS. Muhammad: 7)
Kalau sekarang ini kelihatannya mereka begitu berkuasa dan semena-mena, ketahuilah bahwa sifatnya hanya sementara saja. Bahkan kalau kita buka lembaran sejarah muslim - yahudi, kita dapati bahwa selama 14 abad terakhir ini, justru umat Islam berada di atas kekuasaan dan kebesaran. Sedangkan yahudi berada di bawah sebagai umat yang lemah tak berdaya.
Bahkan yahudi adalah kelompok masyarakat yang selama ini dibenci oleh banyak bangsa dan peradaban di dunia. Mereka diusir dari satu negeri ke negeri yang lain. Bahkan di Jerman sampai muncul kekuatan anti yahudi.
Kalau yahudi sekarang ini sedang berkuasa di Palestina dan ingin menghancurkan masjid Al-Aqsha, ketahuilah bahwa kejadian ini bersifat sementara saja. Kami yakin 100% bahwa tidak lama lagi kekuatan yahudi segera tumbang. Cita-cita untuk mendirikan Israel Raya hanya sekedar mimpi yang tidak akan pernah terkabul, insya Allah.
Buktinya, cita-cita itu sudah berusia ribuan tahun, tapisampai sekarang, untuk sekedar bernafas legapun tidak bisa. Sebentar-sebentar teman-teman kita dari Hamasmeledakkan perumahan mereka. Kehidupan macam apa yang sebentar-sebentar diancam dengan bom syahid?
Buat banyak penduduk di pemukiman yahudi di sana, hidup tak lebih dari neraka. Banyak di antara mereka yang akhirnya sadar bahwa apa yang rezim penguasa yahudi lakukan tidak lain hanyalah sebuah obsesi yang terlalu mahal harganya.
Sesungguhnya kalau kita merasa sakit dengan kejadian sekarang ini, ketahuilah yahudi pun ikut merasa sakit juga. Persis sebagaimana Allah SWT berfirman:
Janganlah kamu berhati lemah dalam mengejar mereka. Jika kamu menderita kesakitan, maka sesungguhnya merekapun menderita kesakitan, sebagaimana kamu menderitanya, sedang kamu mengharap dari pada Allah apa yang tidak mereka harapkan. Dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.(QS. An-Nisa'': 104)
Kalau kita khawatir mendengar Al-Aqsha dibuldozer, para yahudi di sana bahkan kehilangan nafsu makan. Karena setiap saat, diri mereka, isteri dan anak-anak merekabisa saja tiba-tibajadi serpihan daging yang berceceran. Siapa yang berani melawan bom syahid para mujahidin Palestina?
Bagi yahudi, tidak ada pasukan yang paling ditakuti di dunia dan dari luar angkasa sekalipun, kecuali pasukan Muhammad SAW. Karena hanya pasukan inilah satu-satunya yang pernah melumat habis dan mengusir pergi kelompok yahudi laknatullah dari kota Madinah dan Khaibar.
Pasukan ini tidak pernah takut mati, tetapi justru merindukan mati syahid. Surga sudah melambai-lambai memanggil mereka. Buat apa hidup di bawah jajahan Israel, lebih baik segera menemui Allah SWT dan menikmati hidup abadi di surga. Allahu akbar!!!
Seandainya TNI dan semua prajuritnya punya mental seperti ini, pastilah TNI jadi tentara nomor wahid di dunia. Sebab kekuatan sebuah pasukan tidak semata diukur dari senjata, melainkan dari nyali. Lihatlah bagaimana pasukan AS ''keok'' di Iraq, bukankah mereka punya teknologi mutakhir? Tapi semua itu tidak ada artinya, kalau orang yang pegang senjata hanyalah sekumpulanbadut pengecut yang takut maut.
Tentara Israel ternyata jauh lebih pengecut lagi. Mereka hanya mampu membuat senjata dan memainkannya dari balik tembok.Kalau urusanperang bertemu langsung dengan lawan, adanya di nomor buncit, alias paling belakang.
Maka janganlah kecil hati saudaraku, insya Allah teman-teman kita di Palestina sudah siap perang sampai tetes darah penghabisan. Kita bantu doa, dana serta opini. Yang terakhir ini sangat penting, karena masih banyak muslimin saudara kita yang tidak tahu apa arti jihad melawan yahudi Israel.
Masih banyak keluarga kita yang bersikap masa bodo dengan problematika dunia Islam. Bahkan ada yang tega-teganya memfitnah pejuang muslim Palestina dan mengatakannya sebagai teroris, astaghfirullah-azhdim!!
Mari kita sadarkan teman-teman kita di sini, siapa lagi yang punya peran itu, kalau bukan kita. Kita kampanyekan bahwa jihad saudara kita di Palestina adalah jihad suci, yang perlu kita bantu dari segala sisi. Bukan sekedar mati konyol sebagaimana black campagne dari musuh-musuh Islam.
Dan ingat juga, bahwa kejadian seperti di Al-Aqsha itu mungkin saja nanti akan terjadi juga di negeri kita. Ada waktunya kita mungkin juga harus berjihad secara pisik, kalau negeri kita misalnya tiba-tiba diserbu tentara kafir yang ingin menghancurkan Islam di negeri ini, dengan dalih apapun. Toh kejadian ini sudah berlangsung di Afghan, Iraq, Libanon dan lainnya. Maka bagaimana dengan Indonesia? Hanya Allah yang tahu, kapan waktunya tiba.

Wallahu a''lam bishshawab, wassalamu ''alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Ahmad Sarwat, Lc

http://www.ustsarwat.com/web/ust.php?id=1170911872

Surat Terbuka Lauren Booth: Mengapa Saya Memilih Islam

Daily Mail
Surat Terbuka Lauren Booth: Mengapa Saya Memilih Islam (1)
Lauren Booth
Surat Terbuka Lauren Booth: Mengapa Saya Memilih Islam (2)
Lauren Booth
REPUBLIKA.CO.ID, LONDON--Belum sebulan menjadi mualaf, ipar mantan perdana menteri Inggris Tony Blair,  Lauren Booth, kembali menjadi bahan berita. Kali ini ia disebut menganut Islam syiah garis keras. Tudingan itu, dilatari perjalanannya ke Iran yang mengantarkannya menjadi Muslim.

Publikasi lain menyebut, ia menjadi Muslim hanya demi mencari popularitas. "Ia ingin diperhatikan," demikian sebagian orang mengomentari.

Alih-alih menanggapi semua tudingan, ia malah membuat surat terbuka tentang rasa syukurnya menjadi seorang Muslim. Suratnya itu dimuat di harian Daily Mail edisi awal pekan ini. Berikut ini petikannya:


Ditanya mengenai penjelasan singkat tentang bagaimana saya -- seorang jurnalis, orang tua  tunggal yang juga wanita karier, bekerja di media Barat -- memilih agama ini, saya selalu menjelaskan tentang pengalaman spiritual paling intens di sebuah masjid di Iran sebulan lalu.

Tetapi, hal ini membawa saya menengok ke belakang, pada Januari 2005, ketika saya datang seorang diri ke Tepi Barat untuk meliput pemilu di sana yang nantinya diterbitkan di The Mail edisi Minggu. Asal Anda tahu, sebelum pergi ke sana, saya belum pernah menghabiskan waktu dengan seseorang berdarah Arab, atau seseorang beragama Islam.

Seluruh pengalaman mungkin akan sangat mengejutkan, namun bukan untuk alasan yang mungkin saya harapkan. Sangat banyak informasi yang kita tahu tentang orang-orang yang mengikuti ajaran Nabi Muhammad, walau belakangan saya sadari banyak yang bias.

Intinya, saya tetap terbang ke Timur Tengah, dengan beragam pikiran berkecamuk di kepala saya: ekstremis radikal, kaum fanatik, kawin paksa, bom bunuh diri, dan jihad. Tak banyak brosur perjalanan yang saya bawa.

Pertama menginjakkan kaki, saya datang tanpa mantel, karena otoritas bandara Israel menahan kopor saya. Saat berjalan di Ramallah, saya menggigil, sebelum kemudian seorang wanita tua mencengkeram tangan saya.

Berbicara tak jelas dalam bahasa Arab yang cepat, ia membawa saya masuk ke dalam rumah di sisi jalan. Oh, apakah saya tengah diculik oleh seorang teroris? Saya masih bingung dan bertanya-tanya, ketika ia membuka lemari pakaian dan menarik sebuah mantel, topi, dan scarf.

Saya keluar dari rumah itu dengan mengenakan mantel, topi, dan scaft pemberiannya. Ciuman wanita tua itu mengantarkan kehangatan pada perjalanan saya. Kami tak saling bertukar kata.

Kejadian itu sangat sulit saya lupakan. Dalam wujud yang berbeda, kehangatan yang sama saya dapatkan ratusan kali. Hal yang sungguh tak saya dapatkan dalam apapun yang telah saya baca sebelumnya, atau terlihat di artikel manapun.

Sejak itu, saya setidaknya beberapa kali pergi ke sana selama tiga tahun. Pertama kali saya pergi untuk urusan kerjaan, maka kali lain saya pergi untuk alasan yang berbeda: bergabung dengan relawan pembawa bantuan dan grup pro-Palestina. Saya merasa tertantang oleh kesulitan yang dialami Palestina. Penting untuk diingat, ada umat Kristen di Tanah Suci ini yang telah tinggal selama 2.000 tahun dan bahwa mereka juga menderita di bawah pendudukan ilegal Israel.

Secara bertahap saya menemukan ekspresi seperti 'Masya Allah!' dan 'Alhamdullilah!' (mirip dengan 'Haleluya'), dan itu mulai masuk dalam percakapan sehari-hari saya. Ini adalah seruan gembira yang berasal dari 100 nama Tuhan (maksudnya mungkin 99, red), atau Allah.

Dari semula saya selalu gugup bila berada di dekat kelompok Muslim, kini saya malah mencoba untuk mendekati mereka. Sebuah tantangan bisa ada di dekat kaum terpelajar, yang lebih di atas semua itu, adalah sangat ramah dan murah hati.

Sejak itu, saya tak ragu lagi untuk memulai perubahan pemahaman politik, bahwa sesungguhnya warga  Palestina adalah sebuah keluarga yang hangat ketimbang tersangka teror, dan kaum Muslim adalah sebuah komunitas ketimbang serangkaian "Collateral Damage".

(OK, saya hentikan di sini dulu, karena saya harus shalat selama 10 menit. Sekarang pukul 01.30 PM. Ada lima kali waktu berdoa dalam Islam tiap hari, sepanjang tahun sejak terbit matahari hingga malam hari).

Bagaimana tentang perjalanan spiritual? Itu tak pernah terjadi pada saya. Meskupun, saya suka berdoa dan sejak kecil sudah mendengar cerita tentang Yesus dan para nabi sebelumnya. Saya dibesarkan dalam keluarga yang sangat sekuler.

Mungkin apresiasi saya atas budaya Islam, terutama pada perempuan Muslim, yang menarik saya untuk mengapresiasi Islam. Perempuan Islam yang saya lihat di Inggris adalah yang menutup seluruh tubuhnya dari kepala hingga ujung kaki, kadang berjalan di belakang suami mereka, dengan anak-anak berbaju panjang di sekitar mereka.

Ini sungguh kontras dengan kondisi wanita profesional Eropa yang umumnya sangat memperhatikan penampilannya. Saya, misalnya, sangat bangga dengan rambut pirang saya, dan ya, belahan dada saya. Ini seolah menjadi "jualan" utama kami.

Saat bekerja di dunia broadcast televisi, betapa hal itu makin jelas terasa: presenter wanita menghabiskan waktu hingga satu jam untuk merias wajah dan penampilan mereka, hanya untuk membahas satu topik "serius" yang memakan waktu tak lebih dari 15 menit. Apakah ini sebagian bentuk liber-ation? Saya mulai bertanya-tanya seberapa banyak penghormatan bagi gadis-gadis dan perempuan dalam masyarakat "bebas" kita.

Pada tahun 2007 saya pergi ke Libanon. Saya menghabiskan waktu empat hari bersama para mahasiswi di sana, sebagian dari mereka mengenakan cadar. Mereka tetap tampak menawan, mandiri, dan bebas berpendapat. Mereka semua bukan gadis yang pemalu, atau mereka akan segera dipaksa untuk menikah, seperti yang sering kita dengar di Barat.

Suatu waktu mereka menemani saya mewawancarai seorang syekh yang disebut-sebut dekat dengan milisi Hizbullah. Saya sangat terkejut ketika melihat bagaimana syekh itu memperlakukan pada gadis yang menemani saya ini. Saat Syekh Nabil  yang mengenakan surban dan jubah cokelat berbicara tentang topik yang "menantang" -- tentang pertukaran tawanan -- mereka tergelitik untuk angkat bicara. Mereka bebas bertanya dan menyatakan apapun, termasuk angkat tangan untuk menyela sang Syekh yang tengah berbicara.

Ada hal lain yang berubah kemudian dalam diri saya.  Semakin banyak waktu saya habiskan di Timur Tengah, semakin sering saya minta diantar ke masjid. Hanya untuk kepentingan pesiar, begitu saya selalu meyakinkan pada diri saya. Walaupun faktanya, saya mendapatkan lebih dari sekadar "wisata" belaka.

Bebas dari aneka patung dan bangku, saya melihat mereka duduk begitu saja dengan anak-anak bermain di sekitarnya, beberapa memakan bekal mereka, dan wanita tua duduk di atas kursi roda mereka membaca Alquran. Mereka membawa "kehidupan" mereka ke masjid, dan membawa "masjid" ke dalam rumah-rumah mereka.

Dan tibalah suatu malam saat saya mengunjungi kota Qom, di bawah kubah emas yang disebut Fatimah Mesumah (Fatimah Sang Teladan), sama seperti perempuan lainnya di sana, tiba-tiba saya bergumam nama Allah beberapa kali, ketika memegang pagar makam Fatimah.

Ketika saya duduk, sebuah kenikmatan spiritual menyergap saya. Bukan kenikmatan yang seolah mengangkat kita dari tanah, tapi kenikmatan yang memberi kedamaian penuh. Saya duduk di sana untuk waktu yang lama. Seorang wanita muda di samping saya membisikkan, "Suatu keajaiban tengah terjadi pada Anda".

Ya, seketika saya tahu. Saya bukan lagi "turis dalam Islam", tapi telah menjadi umat, bagian dari komunitas Muslim, dan terkait dengan seluruh Muslimin.

Untuk pertama kalinya saya merasakan ingin lari dari situasi ini. Ada beberapa alasan; Apakan betul saya telah siap berpindah agama? Apa yang akan ada dalam pikiran teman-teman dan keluarga kalau saya menjadi Muslim? Apakah saya siap untuk mengubah banyak hal dalam perilaku keseharian saya?

Dan yang terjadi kemudian adalah hal yang benar-benar aneh. Saya tidak merasa khawatir tentang hal-hal itu, karena entah bagaimana menjadi seorang Muslim sangat mudah - meskipun masalah yang akan saya hadapi sangat berbeda, tentu saja.

Untuk memulai, Islam menuntut banyak belajar, namun saya ibu dua anak dan bekerja penuh waktu. Anda diharapkan untuk membaca Alquran dari awal hingga akhir, ditambah dengan bertemu imam dan segala macam aturan bagi orang yang sudah tercerahkan. Kebanyakan orang akan menghabiskan berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun sebelum menyatakan keislamannya. Saya bisa melewatinya.

Kini saya menjalin hubungan dengan beberapa masjid di North London, dan saya pergi ke sana setidaknya sekali seminggu. Saya tidak mengkotakkan diri saya apakah saya seorang Syiah atau Sunni. Bagi saya, hanya ada satu Islam dan satu Allah.

Mengadopsi pakaian, harus saya akui, lebih sulit dari yang Anda pikirkan. Menggunakan jilbab artinya saya berubah secara lebih cepat lagi. Dan, saya melakukannya beberapa pekan lalu. Untunglah, cuaca di luar dingin, jadi hanya sedikit orang yang memperhatikan.

Beberapa orang di tempat kerja saya bisa menerima, sebagian lain mencibir, bahkan menganggap palsu konversi keyakinan saya. Tapi sekarang, saya mulai bisa mengabaikan komentar-komentas negatif mereka. Beberapa orang mungkin tak bisa paham tentang perjalanan spiritual, dan berbincang tentang itu justru membuat mereka ketakutan.
Lepas dari semua itu, satu yang menjadi perhatian saya saat ini adalah: saya akan tetap profesional. Beberapa aktivias lama akan tetap saya lakukan. Saya akan tetap menjadi aktivis pro-Palestina, dan tak akan berhenti. Inggris adalah negara yang lebih toleran, setidaknya dibanding Prancis dan Jerman.

Saya beruntung bahwa saya mempunyai hubungan yang kuat dengan orang-orang di sekitar saya. Reaksi dari teman-teman saya yang non-Muslim lebih pada penasaran daripada bermusuhan. "Apakah itu akan mengubahmu?" Mereka bertanya. "Bisakah kita tetap berteman? Bisakah kita pergi minum?"

Jawaban atas dua pertanyaan pertama adalah: ya. Yang terakhir kemungkinan besar adalah, tidak.

Hubungan saya dengan ayah saya mungkin memang tidak bagus, dan susah memintanya memahami konversi keyakinan saya. Saya dan ibu saya memiliki hubungan yang buruk sejak saya menginjak dewasa, namun kami membangun sebuah "jembatan" hubungan dan dia selalu mendukung saya. Ketika saya bilang saya menjadi Muslim, dia menjawab, "Bukan menjadi itu (Muslim). Kudengar tadinya kau menjadi Budha." Namun kini dia memahami dan menerimanya.

Suatu saat jika harus menikah lagi, saya ingin suami saya seorang Muslim. Jika ditanya apakah anak-anak saya akan menjadi Muslim juga, saya tak bisa menjawabnya. Semua terserah mereka. Anda tak bisa mengubah hati seseorang bukan? (Selesai)

Catatan: Beberapa bagian suratnya kami penggal, tetapi tidak mengurangi arti secara keseluruhan.
Red: Siwi Tri Puji B