Jumat, 12 November 2010

Camilla Leyland, Guru Yoga yang Memutuskan Menjadi Muslimah

Jumat, 12 November 2010
Camilla Yoga
Camilla Leyland, Guru Yoga yang Memutuskan Menjadi Muslimah
Camilla Leyland
REPUBLIKA.CO.ID, Namanya Camilla Leyland. Usianya kini 32 tahun. Bagi warga Cornwall, Inggris, Camilla sudah tak asing lagi. Ia memiliki sanggar yoga terbesar dan terkenal di kota itu, Camilla Yoga.

Namun tak banyak yang tahu, ibu dari seorang putri, Inaya, ini adalah seorang Muslim. Ia memutuskan untuk menganut Islam pada usia 20-an tahun.

Beda dengan pandangan Barat soal perlakuan Islam atas perempuan, ia justru tertarik mempelajari Islam karena alasan ini. Menurutnya, tak seperti pandangan banyak orang, Islam justru mendudukkan perempuan setara dengan laki-laki, dalam fungsi dan tugas masing-masing.

"Saya tahu, orang pasti akan terkejut mendengar kata "feminisme dan "Islam". Namun jangan salah, dalam Alquran, wanita mempunyai kedudukan setara laki-laki dan ketika agama ini dilahirkan, perempuan adalah warga kelas dua dalam masyarakat misoginis," ujarnya.

Menurutnya, banyak orang yang salah mendudukkan antara budaya dan agama. Di negara Islam, kebebasan wanita dikungkung mungkin benar, namun jangan salah juga, ketika saya tumbuh, saya juga merasa tertekan dalam kultur masyarakat Barat yang begini," ujarnya. "Tekanan" yang dimaksudkan, adalah tuntutan sosial agar wanita berlaku sama dengan pria, dengan minum minuman keras dan seks bebas. "Tak ada artinya semua itu bagi saya. Dalam Islam, ketika Anda mulai menjalin hubungan, maka artinya adalah sebuah komitmen yang intens," ujarnya.

Camilla besar dalam lingkungan kelas menengah Inggris. Ayahnya adalah direktur Southampton Institute of Education dan ibunya dosen ekonomi. Camilla mulai tertarik pada Islam sejak sekolah menengah.

Dahaganya akan pengetahuan keislaman agak terpuaskan ketelah ia masuk universitas, yang dilanjutkan dengan meraih gelar master untuk bidang studi Timur Tengah.

Pencerahan datang saat ia tinggal dan bekerja di Suriah. Ia makin tertarik pada Islam setelah membaca terjemah Alquran. "Saya tertarik untuk menjadi mualaf," ujarnya.

Keputusannya menganut Islam membuat teman-teman dan keluarganya heran. "Sulit bagi mereka untuk memahami seorang yang terpelajar, berasal dari kelas menengah, dan berkulit putih pula, memutuskan untuk menjadi Muslim," ujar Camilla.

Ia sempat mengenakan jilbab, namun kini dia tampil tanpa jilbab. Namun ia mengaku makin mantap dengan islam dan tak pernah melalaikan shalat.

Ia bersyukur menemukan Islam. Ia bercerita, makin kuat tekadnya memegang teguh agamanya saat menghadiri ulang tahun temannya di sebuah bar, saat itu ia tampil perjilbab.

"Saya berjalan, dengan jilbab dan pakaian rapat saya, melihat semua mata menatap saya dan beberapa yang mabuk mengucapkan kata-kata tak senonoh atau menari secara provokatif. Untuk pertama kalinya, saya menyaksikan masa lalu saya dengan sebelah mata dan saya tahu, saya tak akan pernah ingin kembali pada kehidupan semacam itu," ujarnya.

Ia menyatakan beruntung menemukan "rute penyelamatan diri"-nya, Islam. "Ini saya yang sesungguhnya: saya bahagia berdoa lima kali sehari, dan mengikuti pengajian di masjid. Saya tak lagi menjadi budak dari masyarakat yang rusak," ujarnya.
Red: Siwi Tri Puji BSumber: Berbagai sumber
 

Kamis, 11 November 2010

Hedaytul Islam (Haw Baan) Masjid, Chiang Mai, Thailand

Kamis, 11 November 2010
Ban_Hoe_Mosque
Moschee Ban_Hoe_Mosque Moschee Ban_Hoe_Mosque
On the left is the prayer hall, and on the right is the educational hall.
On the left is the prayer hall, and on the right is the educational hall. Di sebelah kiri adalah ruang doa, dan di sebelah kanan adalah ruang pendidikan.
(Chinese: 王和清真寺; pinyin: wánghéqīngzhēnsì, Thai: มัสยิดเฮดายาตูลอิสลามบ้านฮ่อ), located at Night Bazaar in Chiang Mai, is one of the biggest mosques in the province, and also one of the seven Chinese mosques in Chiang Mai. (Cina: 王 和 清真寺; pinyin: wánghéqīngzhēnsì, Thailand: มัสยิด เฮ ดา ยา ตู ล อิสลาม บ้าน ฮ่อ), terletak di Night Bazaar di Chiang Mai, adalah salah satu masjid terbesar di provinsi ini, dan juga salah satu dari tujuh masjid Cina di Chiang Mai.
It was first built in nineteenth century by a group of Chinese people, called Chin Ho or Hui, mostly came from Yunnan. Ini pertama kali dibangun pada abad kesembilan belas oleh sekelompok orang Tionghoa, yang disebut atau Hui Chin Ho, sebagian besar berasal dari Yunnan. The present-day buildings were built later, with an Arabic style rather a Chinese style, except in front of the prayer hall, there is a Chinese word, “清真寺”,which means a mosque. Bangunan saat ini dibangun kemudian, dengan gaya bahasa Arab bukan gaya Cina, kecuali di depan ruang doa, ada sebuah kata Cina, "清真寺", yang berarti masjid.
Every Saturday and Sunday, there is a class for young local Muslims, beginning around 8 O'clock to the noon prayer (dhuhr). Setiap hari Sabtu dan Minggu, ada kelas untuk Muslim lokal muda, dimulai sekitar 8:00 untuk doa siang (zhuhur). The mosque also receives 20 students each year for parents who can't afford to send their children to a government school. Masjid juga menerima 20 siswa setiap tahun bagi orangtua yang tidak mampu mengirimkan anak mereka ke sekolah pemerintah. However, most of them are from the other part of the country, rather in Chiang Mai. Namun, kebanyakan dari mereka adalah dari bagian lain negara, bukan di Chiang Mai. The students are both Chinese and non-Chinese Muslims. Para siswa baik Muslim Cina dan non-Cina.