Jumat, 12 Oktober 2007

Paradoks Masjid Terbesar di Negara Anti Jilbab, Tunisia

Jumat, 12 Oktober 2007

Di daerah bernama Carthage, sebuah wilayah bersejarah yang berlokasi di sisi utara ibukota Tunis, berdiri sebuah masjid terbesar di negara tersebut. Masjid ini, bernama Masjid Abidin. Masjid ini belum lama berdiri karena baru diresmikan oleh Presiden Tunisia pada musim panas 2004.

Masjid ini menjadi lokasi yang paling dikenal di Carthage dan kerap menjadi tempat perayaan sejumlah acara publik di Carghage. Salah satu acara publik yang sangat terkenal digelar di lokasi masjid adalah pameran produk film bioskop dan seni Arab.

Lokadi Carthage berikut masjidnya juga menjadi lokasi yang memiliki daya tarik sendiri bagi para wisatawan, baik lokal maupun mancanegara. Di samping situasinya yang memang terpelihara, wilayah ini juga dekat dengan istana Presiden Tunis. Masjid ini hanya berjarak beberapa meter saja dari istana Presiden yang didirikan setelah kemerdekaan Tunis tahun 1957.

Tapi ternyata kedekatan masjid dengan istana presiden itu justru menjadi masalah bagi kaum Muslimin yang ingin mendirikan sholat di masjid Abidin. Tidak semua orang bisa melakukan shalat di sini, sebagaimana layaknya sebuah masjid pada umumnya. Para musafir maupun penduduk tidak mudah untuk masuk masjid. Karena itulah, warga Tunis lebih banyak menyebut masjid Abidin sebagai “masjid pemerintah”. Di samping itu, karena masjid memang lebih banyak digunakan untuk acara-acara formal pemerintah.

Mereka yang berkunjung ke Tunis, terutama Carthage, akan tertarik melihat pemandangan masjid Abidin yang dibangun dengan arsitektur modern ini. Kebersihannya yang terpelihara, juga lingkungannya yang memang sepi dari penduduk, masjid ini didirikan di sebuah daerah yang tinggi yang memang tak dikelilingi oleh bangunan apapun.

Tapi kita pasti terkejut bila memperhatikan kondisi masjid yang ternyata sangat jarang dikunjungi. Masjid inipun juga hampir sepanjang waktu dikunci dan tertutup untuk pengunjung. Kecuali orang yang ditugaskan untuk adzan, ia bisa masuk untuk mengumandangkan adzan, lalu mendirikan salat dan segera keluar kembali. Sepertinya, ada peraturan tidak tertulis yang melarang para musafir atau penduduk yang ingin salat di dalam masjid, atau bahkan bagi orang yang tinggal di wilayah terdekat dekat masjid.

Pemandangan aneh juga terlihat dengan keberadaan petugas bersenjata yang selalu ada di dalam lokasi masjid. Sementara di luar masjid, ada penjagaan pengamanan ekstra ketat yang dilakukan polisi Tunis, penjaga istana presiden.

Masjid yang tidak dibuka waktu salat ini, dikomentari seorang ulama Tunis, “Masjid ini memiliki misi politik dan hanya dipakai untuk kegiatan keagamaan yang umum saja, seperti salat Jumat, menyambut Ramadhan, maulid nabi, dan tahun baru Islam. Pemimpin politik di sini sangat berupaya untuk tidak tampil di media massa dengan latar belakang masjid. ”

Menurut seorang ulama yang tak mau disebutkan namanya, “Terkadang juga media massa menampilkan gambar Presiden salat di dalam masjid Abidin. Fotonya disebar ke berbagai media lokal, guna sedikit menenangkan publik Tunis yang kerap terpancing kemarahannya akibat sikap pemerintah yang melarang semua simbol agama di masyarakat Muslim Tunis. ”

Seperti diketahui, Tunisia adalah salah satu negara yang sangat keras menentang penggunaan jilbab di tempat-tempat umum. (na-str/iol)

http://www.eramuslim.com/berita/dunia/paradoks-masjid-terbesar-di-negara-anti-jilbab-tunisia.htm


0 komentar:

Poskan Komentar