Selasa, 30 Maret 2010

PERKEMBANGAN SEJARAH ISLAM DI KUTAI

Selasa, 30 Maret 2010

Oleh : H. Mashud Achmad, S,Sos, MM

Masuknya ISLAM kedaerah ini merupakan tonggak sejarah negeri ini dan secara logika tanpa masuknya Islam kenegeri ini mungkin masjid ini ( Masjid Adji Amir Hasanoeddin) berdiri sampai sekarang. Menurut catatan daroi beberapa bahan kepustakaan yang sempat menjadi acuan atau nara sumber sejarah Islam di kutai ini. Masuknya Islam ke daerah Kutai ini terjadi sekitar tahun 1525-1605 masehi, yaitu saat kerajaan Kutai diperintah oleh seorang raja yang bernama Raja Mahkotandan Ibukota kerajaan kutai masih berkedudukan di Kutai lama yakni di “JAITAN LAYAR” atau kira-kira di Kutai Lama. Atau tepatnya di Kecamatan Anggana – kabupaten Kutai bukan di Tenggarong seperti sekarang ini.

Adapun beberapa versi sejarah mencatat :

- Dari Judul Silsilah Kutai Jilid 2 hal 9

Penyebarnya Islam adalah 2 orang dai dari Goa Sulawesi Selatan SyehnAbdul Qadir Khatib atau Datuk Ribandang dan Datuk Ritiro.

- Dari judul Buku “Prinsip dan kebijakan Dakwah Islam” hal 147 karangan Prof. DR. Hamka : bahwa telah datang seorang sayid dari mekkah ke Tenggarong denganmengendarai ikan todak lalu mengajak penduduk negeri tersebut untuk memeluk agama Islam.

Sejak saat itu berdirilah di kutai kerajaan yangbernafaskan Islam dan saat itu pula otomatis symbol dari kemegahan ibadah umat Islam dengan dibangunnya masjid Jami’ yang ada sekarang.

Dalam perkembangan sejarah tahun 1854 ada beberapa yang sempat memangkiu jabtan penghulu :

1 Mufti Syeh khadir (1854-1896)

2 Aji Sultan Muhammad Salehuddin (akhir pemerintahan)

3 Aji Sultan Muhammad Sulaiman (mulai awal pemerintahan)

4 Haji Urai Ahmad atau Pangeran noto Igomo

5 Sayid Muhammad bin Agil bin Yahya (1912-1918)

6 Haji Amir Bone (1918-1926)

7 Haji Adji Amir Hasanuddin (1926-1935)

8 Adji Pangeran Ratu (1935-1945)

9 Muhammad Sayid Daeng Faruku (1945-1948)

10 haji Ahmad Muksin (1948-1951)

Demikian secara singkat perkembangan syiar Islam khusunya di Kutai ini.

0 komentar:

Poskan Komentar