Jumat, 24 Desember 2010

Korupsi di Dunia Sedang 'Naik Daun'

Jumat, 24 Desember 2010

penulis: conscientizacao


Cerita di atas, adalah penggalan salah satu kisah nyata dari berbagai penjuru dunia yang dikumpulkan transparency.org menyatakan betapa korupsi itu membuat kita susah. Kalau contoh di dalam negeri, sudahlah tak usah lagi kita bicarakan. Sudah terlalu banyak, bahkan sudah jadi barang biasa saja bagi sebagian orang. Tidak menyuap, biasanya malah jadi perilaku aneh di masyarakat kita.

Saya belum mendengar pernyataan pejabat pemerintah kita soal korupsi belakangan ini, terutama karena hari ini adalah Hari Anti Korupsi. Kalaupun pejabat pemerintah mengutip berita dari http://www.transparency.org ini, paling tidak saya sudah tahu, bahwa berita ini akan jadi alasan untuk menutupi ketidakefektifan upaya pemberantasan korupsi di Indonesia. Jika bunyinya akan seperti ini, "Masalah korupsi ini adalah persoalan global," saya tidak akan heran. Bunyinya pasti sudah tidak terlalu asing lagi bagi Anda.

Seperti yang dirilis web BBC News, dan http://www.transparency.org yang diberitakan di websitenya dengan tajuk Global Corruption Barometer 2010 Report, korupsi di dunia sedang meningkat. Beberapa ilustrasi di atas, saya ambil langsung dari webnya www.transparency.org. Itu adalah beberapa bukti bahwa korupsi belakangan ini semakin populer saja. BBC sendiri melakukan polling, dan tema korupsi adalah tema yang paling dipermasalahkan di dunia. Kepopulerannya mengalahkan isu perubahan iklim, kemiskinan, pengangguran, dan meningkatnya harga energi serta bahan pangan.

Meningkatnya korupsi di dunia, sudah pasti juga merupakan kontribusi banyaknya kasus korupsi yang terjadi di Indonesia. Ketika kita ikut berkontribusi terhadap naik daunnya korupsi di dunia, itu jelas bukan prestasi yang patut dibanggakan. Itu aib. Pidato presiden yang katanya akan memimpin sendiri 'pemberantasan' korupsi, hingga kini tampaknya masih jadi sekedar pidato. Buktinya, seperti artikel Bang Enda di lapak sebelah, komitmen dalam bentuk peraturan presiden pun enggan dikeluarkannya.

Yang paling menarik menurut saya adalah, data yang menunjukkan bahwa Partai Politik merupakan pihak yang dianggap paling korup di sejumlah negara. Persepsi ini muncul di banyak negara. Sementara, dari Indonesia persepsi lembaga terkorup ada di lembaga legislatif, DPR RI atau mungkin DPRD. Lembaga Polisi dan partai politik ada di urutan berikutnya.

43 persen responden di Indonesia menyatakan, tingkat korupsi meningkat dalam 3 tahun terakhir. Apakah artinya memang jumlah kasus bertambah banyak? Atau karena yang terekspos di media yang bertambah banyak? Kalau menilhat transparansi informasi di Indonesia, saya menduga persepsi ini bukan berarti jumlah korupsinya meningkat, tetapi lebih karena pemberitaannya yang lebih heboh. Kalau saja Gayus hidup di jaman Orba, saya ragu kita bisa melihatnya di televisi saat ini.

Sementara, 35 persen responden Indonesia menyatakan dalam 12 bulan terakhir terlibat dalam penyuapan. Menyuap polisi menjadi favorit, karena seperti yang juga terjadi di Afrika, ini dilakukan karena ingin menghindari 'masalah'. Dalam bahasa kita, diselesaikan secara kekeluargaan saja. Atau, cara damai. Untuk masalah ini, kita kalah dari Rwanda yang menurut berita BBC News berhasil menjadi negara yang paling rendah angka penyuapannya di antara negara-negara Afrika Timur. Burundi menjadi negara yang paling korup di sana.

Data dari TI Indonesia, daerah-daerah di Indonesia telah diukur Indeks Persepsi Korupsi-nya. Survei dilakukan dengan cara wawancara tatap muka terhadap 9237 responden pelaku bisnis, antara bulan Mei sampai dengan Oktober 2010. IPK Indonesia mengukur tingkat korupsi di 50 kota di seluruh Indonesia, meliputi 33 ibukota propinsi ditambah 17 kota lain yang signifikan secara ekonomi. Rentang indeks antara 0 sampai dengan 10; 0 berarti dipersepsikan sangat korup, 10 sangat bersih.

Tahun ini, Kota Denpasar mendapatkan skor paling tinggi (6,71), disusul Tegal (6,26), Solo (6,00), Jogjakarta dan Manokwari (5,81). Sementara kota Cirebon dan Pekanbaru mendapatkan skor terendah (3,61), disusul Surabaya (3,94), Makassar (3,97) dan Jambi (4,13). Kota-kota dengan skor tertinggi mengindikasikan bahwa para pelaku bisnis di sana menilai korupsi mulai menjadi hal yang kurang lazim terjadi, dan usaha pemerintah dan penegak hukum di sana dalam pemberantasan korupsi cukup serius.

APA kabar dengan KPK? Komisi Pemberantasan Korupsi - atau komisi-komisi yang lain- dibentuk untuk membantu pemerintah yang dianggap kurang efektif menjalankan fungsinya dalam isu tertentu. Tapi ketika KPK inipun didera berbagai kasus, hampir lenyaplah sudah harapan pemberantasan korupsi di Indonesia. Presiden sendiri, malah mengeluarkan pernyataan yang tetap mempercayai POLRI untuk kasus sebesar Gayus, yang jelas melibatkan orang-orang dalam Kepolisian, dan Kejaksaan, bahkan Kehakiman.

Masihkah kita bisa berharap pada KPK untuk memberantas korupsi di Indonesia?

Aku Masih Ber HARAP kepada bapak PRESIDEN dan KPK, ayo berantas korupsi.............


0 komentar:

Poskan Komentar