Kamis, 06 Januari 2011

Muslim dan Masjid di Polandia

Kamis, 06 Januari 2011
poland-mosque.gif
Di Polandia tak gampang menemukan masjid. Maklum, hampir semua warga negara Eropa itu non-Muslim. Dari 38,6 juta warga Polandia, sekitar 96 persen di antaranya beragama Katolik Roma. Di sana, Islam termasuk agama minoritas bersama Kristen Protestan, Katolik Ortodoks, dan Yahudi.
“Kami seharusnya sudah punya masjid raya. Sarana ibadah itu mestinya sudah selesai dibangun pada 1991, hasil rancangan seorang arsitek Polandia,” kata Emir Poplawski, Ketua Asosiasi Masyarakat Muslim Warsawa.
Sayang, proyek pembangunan masjid itu batal. “Satu negara Arab yang berjanji akan jadi sponsor tak kunjung mengucurkan dana yang diperlukan,” ujar Poplawski saat dijumpai di Warsawa, pertengahan Desember 2006.
Poplawski terpaksa harus puas dengan masjidnya yang sekarang, yang awalnya adalah bangunan biasa yang dibeli secara swadana. Gedung di Jalan Wiertnicza itu dialihfungsikan menjadi masjid sejak lima tahun silam.
Sebagai satu-satunya fasilitas yang dimiliki organisasi keagamaan yang dipimpin Poplawski, masjid yang berada di pinggiran Warsawa itu juga menjadi tempat dilakukan berbagai kegiatan sosial dan pendidikan Islam. Ia juga menjadi semacam pusat informasi tentang Islam. Di sana pula Poplawski berkantor, di salah satu ruangan di lantai atas.
“Setiap hari Sabtu di sini diselenggarakan kegiatan pendidikan Al Quran bagi anak-anak perempuan,” tutur Poplawski. “Kami juga sering mendapat kunjungan dari para siswa sekolah Katolik yang meminta diberi penjelasan tentang Islam,” tuturnya menjelaskan.
Menurut Poplawski, warga Muslim di Warsawa dan di Polandia umumnya tak pernah memiliki masalah serius dengan umat mayoritas Katolik maupun dengan kelompok agama lain. “Kami bebas beribadah dan menjalankan berbagai kewajiban lain sebagai umat Islam. Tak ada larangan, tekanan, apalagi diskriminasi,” kata Poplawski.
Sementara di sejumlah negara Eropa kini tengah terjadi proses penipisan toleransi terhadap kaum Muslim sebagai dampak peristiwa serangan teror 11 September 2001 di New York dan Washington (yang menewaskan hampir 3.000 orang), di Polandia kehadiran kaum Muslim tetap disambut baik. Mereka diberi hak-hak yang sama dengan warga negara dari golongan lain.
Pernyataan Poplawski dibenarkan Marcin Przeciszewski, Direktur Pers Badan Informasi Katolik Polandia. “Tidak ada ketegangan antara Gereja Katolik dan kelompok-kelompok agama lain mana pun,” kata Przeciszewski yang mewakili Gereja Katolik.
Menurut Przeciszewski, bangsa Polandia pada dasarnya adalah bangsa yang toleran. “Di sini dialog antar-agama terus berlangsung. Dialog dilakukan melalui apa yang disebut dengan Dewan Muslim-Kristen,” katanya.
Badan-badan serupa lainnya, katanya lagi, juga ada, termasuk Dewan Muslim-Yahudi, yang bertujuan terus mengembangkan toleransi antar-agama.
“Dalam konstitusi Polandia, sama sekali tak ada aturan yang membatasi kebebasan umat Islam. Bahkan, jika umat Islam ingin agar simbol-simbol agama Islam juga diperagakan di sekolah-sekolah, hal itu mungkin saja dilakukan,” kata Przeciszewski lagi. “Akan tetapi, sampai sekarang belum ada pihak yang mengajukan usulan itu.”
Warisan suku Tatar
Islam pertama kali dibawa ke Polandia antara abad ke-14 dan ke-17 oleh berbagai puak suku Tatar yang bermigrasi ke wilayah persemakmuran Polandia-Lituania. Mereka datang dari wilayah Gerombolan Emas (Golden Horde), kerajaan yang dibangun pada abad ke-13 oleh Batu Khan, cucu Jengis Khan, penguasa Tatar yang sohor itu.
Orang China sering menyebut suku Tatar yang menjadi tentara Batu Khan sebagai orang-orang Mongolia. Soalnya, waktu itu, meski sebagian besar prajurit Tatar berasal dari Turki, para perwiranya kebanyakan orang Mongolia.
Kelompok-kelompok Tatar datang ke Polandia-Lituania atas undangan para bangsawan Lituania, yang terkesan pada kehebatan mereka sebagai prajurit tempur. Itu sebabnya, banyak orang Tatar yang kemudian dianugerahi status kebangsawanan, tradisi yang baru dihapus saat tamatnya riwayat negara persemakmuran Polandia-Lituania, abad ke-18.
Sebagai imbalan atas kesediaan bergabung dalam bala tentara Polandia-Lituania, diaspora Tatar diberi kebebasan mempertahankan kebudayaan, adat kebiasaan, dan, terutama, agama Islam aliran Sunni yang mereka peluk. Berdasarkan Konstitusi Mei 1791, kaum minoritas Tatar juga berhak menempatkan wakil mereka di sejm alias parlemen.
Di zaman Kerajaan Polandia-Lituania, para lelaki Tatar bahkan diperbolehkan menikahi perempuan Polandia beragama Katolik Roma atau Ortodoks, tanpa harus beralih keyakinan agama.
Meski berasal dari golongan minoritas, kehadiran warga keturunan Tatar cukup mencolok dalam angkatan bersenjata Kerajaan Polandia-Lituania. Dalam masyarakat Polandia masa kini keberadaan mereka juga dikenal luas karena adanya para sastrawan dan akademisi ternama Polandia yang berdarah Tatar.
Sekarang ini diperkirakan ada 3.000 warga keturunan Tatar di Polandia. Salah satunya adalah Emir Poplawski. “Saya ini masih keturunan orang-orang Tatar yang membawa Islam untuk pertama kali ke Polandia,” katanya.
Sebagian keturunan Tatar tinggal di Desa Bohoniki dan Kruszyniani di Polandia timur laut. Sisanya tinggal tersebar di berbagai kota. Pada awal 1990-an dikabarkan juga ada komunitas kecil imigran asal Polandia berdarah Tatar di Brooklyn, New York, Amerika Serikat, tempat mereka mendirikan sebuah masjid yang masih berfungsi hingga hari ini.
Sejak 1970-an, masyarakat Muslim Polandia tumbuh dengan adanya kaum imigran baru. Mereka adalah para mahasiswa dari sejumlah negara berbahasa Arab di Timur Tengah dan Afrika yang berorientasi politik sosialis. Sebagian kemudian memutuskan menetap di Polandia. Di samping warga keturunan Tatar, mereka inilah yang juga mendirikan mushala atau masjid di sejumlah kota, seperti di Warsawa, Bialystok, Gdansk, Wroclaw, Lublin, dan Poznan.
Seiring dengan runtuhnya komunisme pada 1989, kelompok-kelompok imigran Muslim lain juga mulai berdatangan ke Polandia. Mereka terutama berasal dari Turki dan bekas Yugoslavia. Kelompok-kelompok yang lebih kecil ada pula yang berasal dari Pakistan, Afganistan, dan Chechnya.
Populasi kaum Muslim di Polandia saat ini tak diketahui dengan pasti karena agama tak ditanyakan dalam pelaksanaan sensus nasional terakhir, tahun 2002. Namun, diperkirakan, di seluruh Polandia terdapat 30.000 pemeluk Islam, dengan 3.000 sampai 5.000 di antaranya adalah keturunan Tatar.

http://wayofmuslim.wordpress.com/category/info-masjid/

0 komentar:

Poskan Komentar